· Biografi Kapitan Pattimura
· Perjuangan Kapitan Pattimura
Bab I. Pendahuluan
A. Latar Belakang Penelitian
Kami membuat laporan ini karena telah ditugasi oleh guru sejarah kami.
Kenapa kami memilih kisah Kapitan Pattimura? Jelas, karena kami masyarakat Indonesia. Dan kami akui, kami belum cukup mengetahui sejarah kepahlawanan tentang Kapitan Pattimura.
Bagi kami, sejarah itu penting untuk diketahui oleh siapapun. Jadi, jika suatu ketika anda ditanyai masyarakat asing tentang sejarah negaramu sendiri anda tidak akan menjawab dengan jawaban yang konyol.
B. Masalah Penelitian
Disekolah kami, sudah sangat jarang murid-murid yang tidak tertarik dan tidak mengetahui tentang kisah-kisah sejarah. Maka, dari laporan inilah kami bermaksud ingin memperkenalkan 1 kisah sejarah pahlawan Republik Indonesia.
C. Tujuan Penelitian
Sudah tentu kami akan membuat cerita ini semenarik mungkin agar para kaum pemuda-pemudi berniat untuk membacanya. Tujuan lainnya adalah untuk melatih kemampuan para pembaca untuk berkhayal dan membayangkan seperti apa tokoh pahlawan kita, juga untuk meningkatkan rasa nasionalisme bagi kaum pemuda-pemudi.
D. Metode Penelitian
Metode penelitian kami sangatlah mudah. Kami mengunjungi perpustakaan sekolah, memilih salah satu buku kemudian meringkasnya dalam bentuk laporan. Mudah kan?
Bab II. Historiografi J
· Biografi Kapitan Pattimura
Pattimura, memiliki nama asli Thomas Matulessy (lahir di Hualoy, Hualoy, Seram Selatan, Maluku, 8 Juni 1783 – meninggal di Ambon, Maluku, 16 Desember 1817 pada umur 34 tahun). Ia adalah putra Frans Matulesi dengan Fransina Silahoi. Adapun dalam buku biografi Pattimura versi pemerintah yang pertama kali terbit, M Sapija menulis, "Bahwa pahlawan Pattimura tergolong turunan bangsawan dan berasal dari Nusa Ina (Seram). Ayah beliau yang bernama Antoni Mattulessy adalah anak dari Kasimiliali Pattimura Mattulessy. Yang terakhir ini adalah putra raja Sahulau. Sahulau merupakan nama orang di negeri yang terletak dalam sebuah teluk di Seram Selatan".
Dari sejarah tentang Pattimura yang ditulis M Sapija, gelar kapitan adalah pemberian Belanda. Padahal tidak. Menurut Sejarawan Mansyur Suryanegara, leluhur bangsa ini, dari sudut sejarah dan antropologi, adalah homo religiosa (makhluk agamis). Keyakinan mereka terhadap sesuatu kekuatan di luar jangkauan akal pikiran mereka, menimbulkan tafsiran yang sulit dicerna rasio modern. Oleh sebab itu, tingkah laku sosialnya dikendalikan kekuatan-kekuatan alam yang mereka takuti.
Jiwa mereka bersatu dengan kekuatan-kekuatan alam, kesaktian-kesaktian khusus yang dimiliki seseorang. Kesaktian itu kemudian diterima sebagai sesuatu peristiwa yang mulia dan suci. Bila ia melekat pada seseorang, maka orang itu adalah lambang dari kekuatan mereka. Dia adalah pemimpin yang dianggap memiliki kharisma. Sifat-sifat itu melekat dan berproses turun-temurun. Walaupun kemudian mereka sudah memeluk agama, namun secara genealogis/silsilah/keturunan adalah turunan pemimpin atau kapitan. Dari sinilah sebenarnya sebutan "kapitan" yang melekat pada diri Pattimura itu bermula.
Sebelum melakukan perlawanan terhadap VOC ia pernah berkarier dalam militer sebagai mantan sersan Militer Inggris. Kata "Maluku" berasal dari bahasa Arab Al Mulk atau Al Malik yang berarti Tanah Raja-Raja. mengingat pada masa itu banyaknya kerajaan.
· Perjuangan Pattimura
Pada tahun 1816 pihak Inggris menyerahkan kekuasaannya kepada pihak Belanda dan kemudian Belanda menetrapkan kebijakan politik monopoli, pajak atas tanah (landrente), pemindahan penduduk serta pelayaran Hongi (Hongi Tochten), serta mengabaikan Traktat London I antara lain dalam pasal 11 memuat ketentuan bahwa Residen Inggris di Ambon harus merundingkan dahulu pemindahan koprs Ambon dengan Gubenur dan dalam perjanjian tersebut juga dicantumkan dengan jelas bahwa jika pemerintahan Inggris berakhir di Maluku maka para serdadu-serdadu Ambon harus dibebaskan dalam artian berhak untuk memilih untuk memasuki dinas militer pemerintah baru atau keluar dari dinas militer, akan tetapi dalam pratiknya pemindahan dinas militer ini dipaksakan. Kedatangan kembali kolonial Belanda pada tahun 1817 mendapat tantangan keras dari rakyat.
Hal ini disebabkan karena kondisi politik, ekonomi, dan hubungan kemasyarakatan yang buruk selama dua abad. Rakyat Maluku akhirnya bangkit mengangkat senjata di bawah pimpinan Kapitan Pattimura. Maka pada waktu pecah perang melawan penjajah Belanda tahun 1817, Raja-raja Patih, Para Kapitan, Tua-tua Adat dan rakyat mengangkatnya sebagai pemimpin dan panglima perang karena berpengalaman dan memiliki sifat-sfat kesatria (kabaressi). Sebagai panglima perang, Kapitan Pattimura mengatur strategi perang bersama pembantunya.
Sebagai pemimpin dia berhasil mengkoordinir Raja-raja Patih dalam melaksanakan kegiatan pemerintahan, memimpin rakyat, mengatur pendidikan, menyediakan pangan dan membangun benteng-benteng pertahanan. Kewibawaannya dalam kepemimpinan diakui luas oleh para Raja Patih maupun rakyat biasa. Dalam perjuangan menentang Belanda ia juga menggalang persatuan dengan kerajaan Ternate dan Tidore, raja-raja di Bali, Sulawesi dan Jawa. Perang Pattimura yang berskala nasional itu dihadapi Belanda dengan kekuatan militer yang besar dan kuat dengan mengirimkan sendiri Laksamana Buykes, salah seorang Komisaris Jenderal untuk menghadapi Patimura.
· Akhir Perjuangan Pattimura
Sifat pertempuran pada waktu itu masih kondisional dan komunikasi antar raja-raja di Maluku kurang solid. Belanda mengubah taktiknya dengan siasat adu domba. Belanda melakukan fitnah antar satu kerajaan dengan kerajaan lainnya. Akhirnya, terjadilah perang saudara yang ditiupkan oleh antek kompeni.
Pattimura dan pengikutnya ditangkap karena siasat licik dari antek kompeni. Pattimura diadili oleh Hindia Belanda dan diganjar hukuman gantung ditengah lapangan di Ambon.
Bab III. Kesimpulan
Penelitian ini kami buat dalam waktu singkat dan tergolong mudah. Penelitian ini juga untuk memenuhi tugas yang diberikan mengenai sejarah para pahlawan. Untuk keterangan lebih lanjutnya, dianjurkan anda membacanya di sumber yang lebih lengkap seperti, di internet atau perpustakaan sekolah. Sekian dan terimakasih.
Daftar Pustaka
Tidak ada komentar:
Posting Komentar